Beranda | Artikel
Prinsip-Prinsip Manhaj Ahlus Sunnah wal Jamaah (Bag. 1)
8 jam lalu

Di tengah banyaknya perpecahan, munculnya banyak kelompok yang menyimpang, dan pemikiran yang saling mengklaim berada di atas kebenaran, seorang muslim membutuhkan pegangan yang jelas agar tidak tersesat dari jalan yang lurus. Oleh karena itu, betapa pentingnya mengetahui jalan yang lurus yang diperintahkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk diikuti, serta mengenal orang-orang yang menempuh jalan tersebut, yang dikenal dengan sebutan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Siapakah Ahlus Sunnah wal Jama’ah?

Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang berusaha mengikuti ajaran dan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Adapun Al-Jama’ah adalah mereka yang bersatu di atas kebenaran dan tidak terpecah belah dan saling berselisih.

Oleh karena itu, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman di akhir sepuluh wasiat-Nya yang terdapat pada surah Al-An’am,

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Dan sungguh, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu Dia wasiatkan kepada kalian, agar kalian bertakwa.” (QS. Al-An’am: 153)

Yang dimaksud “jalan lurus” adalah jalan yang setiap hari seorang muslim minta kepada Allah ‘Azza wa Jalla agar ditunjukkan dan diteguhkan di atasnya. Bahkan, permohonan itu ia ulangi berkali-kali dalam setiap salat ketika membaca surah Al-Fatihah,

اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ، صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (Yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan pula (jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah: 6–7)

Pada kedua ayat tersebut, terdapat perintah untuk menempuh dan berpegang teguh pada jalan yang lurus serta meninggalkan jalan-jalan yang menyimpang. Jalan yang lurus itu adalah jalan yang Allah ‘Azza wa Jalla jelaskan para pengikutnya dalam firman-Nya,

وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِم مِّنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ ۚ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

“Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul, maka mereka itu akan bersama orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka, yaitu para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa’: 69)

Jalan tersebut juga telah dijelaskan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya siapa saja di antara kalian yang hidup sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka wajib atas kalian berpegang kepada sunahku dan sunah para Khulafaur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk. Berpegang teguhlah kalian kepadanya dan gigitlah ia dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara yang diada-adakan, karena setiap perkara yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Dawud no. 4607)

Dalam hadis ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan peringatan kepada umatnya akan munculnya banyak perselisihan setelah wafatnya beliau. Oleh karena itu, beliau memerintahkan agar kaum muslimin tetap teguh di atas kebenaran ketika perselisihan terjadi di antara kaum muslimin.

Kebenaran yang dimaksud adalah sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu jalan hidup dan petunjuk yang beliau amalkan, kemudian diikuti oleh para Khulafaur Rasyidin, serta oleh generasi setelah mereka yang meneladani dan mengikuti jejak mereka dengan baik.

Sebagaimana yang telah Allah ‘Azza wa Jalla firmankan,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100)

Oleh karena itu, mereka dinamakan Ahlus Sunnah, karena mereka berjalan di atas sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka juga disebut al-Firqah an-Najiyah (golongan yang selamat), karena berpegang pada jalan yang menjadi sebab keselamatannya sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِي عَلَى ثَلَاثٍ وَسَبْعِينَ مِلَّةً، كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً، قالوا: ومن هي يا رسول الله؟ قال: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي

“‘Umatku akan terpecah menjadi tujuh puluh tiga golongan. Semuanya (terancam) berada di dalam neraka kecuali satu golongan.’ Para sahabat bertanya, ‘Siapakah golongan itu, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Yaitu golongan yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya.’” (HR. At-Tirmidzi no. 2641)

Mereka dinamakan golongan yang selamat, karena mereka selamat dari ancaman tersebut dengan tetap berpegang teguh kepada petunjuk Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti generasi terdahulu dari kalangan Muhajirin dan Anshar, serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُم بِإِحْسَانٍ

“Dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.(QS. At-Taubah: 100)

Mengikuti para sahabat radhiyallahu ‘anhum tidak cukup hanya dengan klaim atau pengakuan semata. Hal itu harus diwujudkan dengan mengikuti mereka dengan benar, sempurna, dan konsisten, setelah mengetahui apa yang mereka amalkan dengan mempelajari ilmu yang bermanfaat.

Hal itu tidak mungkin terwujud kecuali setelah mempelajari dan mengetahui apa yang menjadi pegangan generasi terdahulu dalam masalah akidah dan amal, sehingga seseorang dapat mengikuti mereka dengan baik. Adapun orang yang tidak mengetahui apa yang mereka amalkan, maka ia tidak dapat mengikuti mereka dengan baik, meskipun ia bersemangat dalam mengikuti mereka.

Oleh karena itu, mempelajari metode atau manhaj generasi salaf merupakan suatu keharusan agar seseorang dapat mengikuti jejak mereka dengan benar dan sempurna. Mengikuti mereka harus dilakukan tanpa sikap berlebihan (ghuluw), tanpa sikap meremehkan (tafrith), dan tanpa sikap lalai. Sebab manhaj para sahabat adalah jalan yang lurus dan pertengahan (wasathiyyah), yang tidak mengandung sikap meremehkan (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).

Tidak meremehkan, yaitu tidak menyimpang dari jalan yang lurus, tetapi mengklaim berada di atas kebenaran. Tidak berlebihan, yaitu tidak bersikap ekstrem dan melampaui batas, tetapi menempuh jalan yang adil dan pertengahan. Hal ini sangat berbeda dengan sikap orang-orang yang berlebihan dan melampaui batas dalam beragama, serta berbeda pula dengan sikap orang-orang yang bermudah-mudahan dan mengabaikan ajaran agama.

Inilah jalan yang ditempuh oleh para Muhajirin dan Anshar. Seseorang belum dikatakan mengikuti mereka dengan baik kecuali apabila ia benar-benar memahami jalan mereka dengan baik, terhindar dari sikap ekstrem dalam beragama, serta terhindar dari sikap meremehkan dan bermudah-mudahan terhadapnya. Dengan demikian, ia benar-benar telah berjalan di atas manhaj mereka dan mengikuti jalan mereka dengan baik.

Dan inilah manhaj yang lurus yang dipegang oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Berbeda dengan manhaj yang dipegang kaum sufi maupun pelaku bid’ah lainya, dan berbagai kelompok menyimpang yang menjadikan ideologi dan pemikiran para pemimpin dan tokoh-tokoh mereka sebagai landasan utama dalam beragama. Sungguh, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah berfirman tentang kesesatan mereka,

فَتَقَطَّعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ زُبُرًا ۖ كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ

“Mereka memecah-belah urusan agama mereka menjadi berbagai golongan, dan setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.” (QS. Al-Mu’minun: 53)

Ayat ini mengingatkan agar seorang muslim menjadikan Al-Qur’an, sunah, dan pemahaman generasi terbaik umat ini (as-Salaf as-Shalih) sebagai tolok ukur kebenaran, bukan fanatisme terhadap pemikiran kelompok maupun tokoh tertentu.

[Bersambung]

***

Penulis: Chrisna Tri Hartadi

Artikel Muslim.or.id

 

Catatan kaki:

Disarikan dari kitab Ma’alim Manhaj Ahlis Sunnah wal Jama’ah, karya Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan hafizhahullah, hal. 9-12.


Artikel asli: https://muslim.or.id/114937-prinsip-prinsip-manhaj-ahlus-sunnah-wal-jamaah-bag-1.html